Tempat Terbaik untuk Merenung di Berina Rice Terrace
Sesak dengan hiruk-pikuk Denpasar yang selalu macet dan padat di mana-mana, akhirnya aku mengiyakan tawaran pacarku untuk ikut ke Karangasem karena pekerjaannya.
Tentu saja bukan untuk ikut bekerja, tetapi dengan gamblang diriku bilang bahwa aku ingin liburan!
Karangasem bukan daerah yang asing bagiku, karena sewaktu masa-masa kuliah hampir sepuluh tahun lalu, aku bersama himpunan mahasiswa jurusan, pernah menginisiasi program pengabdian masyarakat di Desa Manggis.
Selama satu minggu, setiap akhir pekan, kami datang ke desa untuk melaksanakan program pengabdian, mampir ke sekolah binaan, sampai bikin pentas seni kecil-kecilan.
Bahkan ketika Gunung Agung dikatakan berniat erupsi hingga seluruh penduduknya mengungsi ke Desa Manggis, kami masih punya ‘tenaga’ serta keberanian untuk menggalang donasi kebutuhan pokok dan ikut terlibat dalam ‘pengungsian’.
Kalau dipikir-pikir lagi, aku sendiri heran karena sewaktu muda dulu punya banyak energi untuk melakukan berbagai hal, sungguh berbeda dengan sekarang yang apa-apa rasanya capek duluan. Mungkin semangatku saja yang sudah luntur, tidak sama seperti dulu.
Ya, ketika melewati Patung Manggis yang fenomenal itu, aku selalu merasa terkenang dengan masa muda yang bergelora. Tapi, sekarang aku sedang hanya ingin mencari ketenangan.
Maka, tanpa berniat apa-apa, hanya jalan-jalan saja, aku mengintil pacarku yang sedang ada urusan pekerjaan di Amlapura, ibu kota Kabupaten Karangasem.
Kami melintasi kawasan Pantai Candidasa yang sekarang sedang ‘dikeruk’ untuk pembangunan entah apa, kemudian melewati jalanan panjang yang agak menanjak sedikit dengan disuguhkan pemandangan bak permadani bukit.
Melewati sebuah proyek pemerintah yang terbengkalai berupa pasar dan laboratorium komputer, bikin kami terkekeh sepanjang perjalanan.
Siapa yang mau pakai tempat itu di sini? Lantas ditutup dengan kesimpulan bahwa lokasi itu kini jadi ‘rumah’ sementara para pekerja proyek di Candidasa, yang semoga proyeknya juga tidak ikutan mangkrak, seperti halnya tempat yang biasa digadang-gadang untuk fasilitas warganya.
Diriku kemudian dititipkan sementara di Zodiac Cafe Karangasem, sementara pacarku menyelesaikan urusan pekerjaannya. Sembari makan siang di kafe tadi yang kebanyakan dipenuhi bule-bule, aku mengintip koleksi buku-buku mereka yang lumayan seru dan terkesan jadul tentunya. Selepas itu, kami melanjutkan perjalanan destinasi selanjutnya.
Keputusan untuk melancong ke Berina Rice Terrace Cafe tentu saja merupakan keputusanku, karena pacarku pastinya hanya iya-iya saja. Bahkan sebelumnya, diriku bilang mau ke daerah Amed, dirinya mengiayakan saja, meski rasanya tidak mungkin perjalanan ini bisa dilakukan untuk trip setengah hari.
Maka dari itu, kami memutuskan untuk mampir saja ke sebuah kafe yang dikelola warga lokal bernama Berina Rice Terrace yang jaraknya hanya 30 menit dari kota Amlapura.
Pernah Mendengar Berina Rice Terrace?
Tentu saja dari namanya rice terrace, kamu akan membayangkan sebuah sawah terasering yang berundak-undak. Kalau di Gianyar ada Tegallalang dan di Tabanan ada Jatiluwih, yang kita tahu pernah ada konflik terkait tata ruang dan protes warga di akhir tahun lalu. Begitulah Bali yang terkesan ‘indah’, namun selalu menyimpan hal-hal yang kurang menyenangkan untuk warganya sendiri.
Tiba di gerbang Berina Rice Terrace, kami lantas disambut langsung oleh pemiliknya. Namanya Pak Ketut "Rahul"––disebut begitu karena sewaktu muda dirinya kerap dimirip-miripkan dengan artis India. Pak Ketut lantas meyakinkan kami apakah benar akan bertandang ke tempatnya, karena di sebelah ada tempat yang serupa namanya. Kami mengiyakan bahwa tujuan kami memang ke Berina Rice Terrace Cafe miliknya.
Aku bilang bahwa diriku mendapatkan info tentang Berina lewat video di TikTok yang lantas membuat Pak Ketut terkekeh sendiri.
Kami diajak turun ke undakan tangga berupa lorong seukuran tubuh orang dewasa yang perlu sedikit menunduk untuk melewatinya. Tiba di bagian tengah, kami lantas disuguhkan menu dari spanduk yang sudah terpasang harganya.
Tanpa pikir panjang, aku memesan teh jahe merah panas dan kentang goreng. Sedangkan pacarku memesan es lemon, laklak, dan pisang goreng. Tidak sampai di situ saja, Pak Ketut mengajak kami turun ke bawah lagi untuk mendapatkan tempat terbaik untuk bersantai.
Akhirnya, kami ditempatkan di pojok bawah kafe yang langsung menghadap pemandangan sawah terasering. Sebelum duduk, aku lantas salah fokus dengan pelinggih yang ada di sebelah tempat duduk kami.
Untuk menjawab rasa penasaran, aku langsung menanyakan soal pelinggih atau tempat untuk sembahyang dan mengaturkan sesaji kepada Pak Ketut. Takut diriku salah menyebutnya, Pak Ketut mengiyakan bahwa pelinggih-nya merupakan sebuah Lingga Yoni.
Aku sendiri jarang, bahkan tidak pernah melihat pelinggih Lingga Yoni di Denpasar, terakhir melihatnya saat sembahyang ke Goa Gajah Gianyar. Mungkin diriku saja yang mainnya kurang jauh dan variatif, maka agak terkaget-kaget menemukan hal yang tidak biasa aku temukan.
“Tumben saya lihat pelinggih berupa Lingga Yoni, pak”, ujarku menunjukkan antusiasme terhadap tempatnya.
“Iya, di sini kami yang kebanyakan bertani memang menggunakan Lingga Yoni sebagai wujud rasa syukur kami”.
Lingga Yoni sendiri merupakan simbol dari Dewa Siwa dan Dewi Parvati yang melambangkan kesuburan. Makanya, pelinggih ini lebih banyak ditemukan di kawasan pertanian sebagai pemujaan para petani sejak zaman dahulu kala.
“Wah, beda seperti di Denpasar yang apa-apanya ribet ya pak Bahkan di sini boleh menggunakan bunga gumitir untuk ngias sanggah?”, timpalku kemudian.
Aku terheran-heran karena di sini adatnya terlihat sederhana, sungguh berbeda dari apa yang aku alami di rumahku sendiri yang apa-apanya penuh aturan dan terasa runyam sendiri menjalankannya dengan dalih beryadnya.
“Yadnya yang paling penting adalah niatnya yang tulus ikhlas”, Pak Ketut menimpali keresahanku. Ia menceritakan sedikit kebiasaan petani di daerahnya yang menggunakan beragam hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur karena alam telah memberikan yang terbaik bagi umatnya.
Aku mengangguk. Pak Ketut menunjukkan pohon lemon yang ditanamnya di dekat teras. Segala yang ia jajakan di sini seluruhnya menggunakan hasil bumi yang dirinya tanam sendiri atau diambil dari lahan petani sekitar. Semuanya dikatakan sebagai pangan organik yang harganya juga masih ramah lokal, sama seperti pelayanannya yang (semoga) tidak pernah membeda-bedakan para pengunjungnya.
Waktu itu di awal bulan Juli, angin di Bali lagi kencang-kencangnya, padahal matahari masih saja terik. Aku pikir Karangasem akan gerah seperti biasanya, namun di Berina Rice Terrace anginnya begitu sepoi-sepoi. Bahkan kalau lama-lama di sana saat itu rasanya akan kedinginan.
Oh ya, Berina Rice Terrace menu yang kami pesan juga habis tak tersisa. Meski lokasinya seolah-olah jauh dari tempat wisata pada umumnya, pelayanan hingga makanan yang dihidangkan sungguh dipersiapkan dengan baik.
Aku suka pisang gorengnya begitu manis dan laklak-nya yang gurih dan dimasak ketika kita baru memesannya. Aku merenung sebentar, perlahan membuka halaman buku yang aku bawa, sembari menikmati angin yang tak pernah berhenti berhembus.
Karena sudah merasa sangat kedinginan, kami lantas pamitan untuk kembali ke Denpasar. Kami diantar sampai ke parkiran atas oleh Pak Ketut dengan anjing peliharaannya yang juga bernama Berina dan sudah menunggu di samping kendaraan kami.
Tak lupa kami melambaikan tangan perpisahan kepada Pak Ketut yang sudah baik hati menceritakan sedikit kisahnya ketika kami berkunjung.
Perjalanan yang menyenangkan dan membuat hatiku penuh sepulangnya.














